Setelah ada twitter, saya jarang melakukan posting di blog lagi. Krn melalui twitter kita bisa langsung sharing pemikiran kita. Namun yang perlu disadari adalah, kebiasaan melakukan twit, dari pada blog, akan membawa kebiasaan pada pola pikir anda sehari2. Skill dalam menulis sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari2, dalam menyusun konsep presentasi, hingga menanggapi berbagai macam pertanyaan. Dengan menulis, kita akan terbiasa untuk membuat pola yang terstruktur, mengasah otak kita untuk menjadikannya kebiasaan. Dan melalui blog kita bisa melatih kemampuan menulis. Namun dengan adanya twitter, kita diberikan suatu fasilitas ‘instan’ untuk mengemukakan pendapat, namun dalam proses pengemukaan pendapat, kita dibatasi oleh limit karakter yg disediakan oleh twitter. Dan hal ini akan memaksa otak untuk mencari ‘jalan singkat’ untuk menjelaskan pemikiran kita. Jika dilakukan terus menerus, alam bawah sadar kita akan ‘merangkum’ dan melewatkan proses ‘mendetail’ yang biasanya kita asah melalui blog. Hal ini saya rasakan setelah saya lama meninggalkan kegiatan blogging dan beralih ke twitter, ternyata hal tersebut berpengaruh dan memberikan dampak terhadap pola pemikiran saya. Untuk mendapatkan ‘struktur pola yang mendetail’ diperlukan waktu yang lebih lama untuk berpikir, karena otak secara tidak sadar telah terlatih untuk hanya memberikan ‘struktur gambaran besar’. Karena saya merasakan dampaknya, maka saya ingin mengembalikan kembali ‘struktur mendetail’ saya dengan melatih skill menulis melalui blog kembali. Semoga berhasil
NB:
-next post akan mengenai pemikiran saya, dari kesimpulan yang saya ambil, dari acara Indonesia Lawyer Club di TV One malam tadi, mengenai ” kekerasan dan premanisme “
-Juga masih mengenai dampak twitter dan sosial media lainnya di dunia maya terhadap “reality social” di Dunia Nyata